Jeanny Margareth didiagnosis mengidap kanker kandungan stadium 3. Sempat putus asa, kanker itu tak kerasan ditubuhnya setelah dia menjalani pola hidup vegan.
TAK pernah sekalipun terlintas dalam benak Jeanny Margareth, dirinya akan sedekat itu dengan kanker.
Biasanya dia hanya mendengar penyakit ganas itu menyerang orang lain.
Ternyata, dia tak luput dari cengkeramannya.
“Dulu, rasanya, kanker itu penyakit yang nggak mungkin terjadi sama saya. Ternyata Tuhan berkehendak lain,” tuturnya.
Kanker memang penyakit yang disebabkan oleh multifaktor.
Namun, Jeanny meyakini, kanker yang diidapnya muncul berkaitan dengan pola makan yang tidak benar.
“Saya gemar sekali makanan yang dipanggang. Terutama, steak dan sate,” ungkapnya usai memberi testimoni pada Seminar Vegetarian di Pusdiklat Buddha Maitreya, Minggu (11/11) lalu.
Kebiasaan itu sudah berlangsung lama. Namun, lanjut dia, intensitas mengonsumsi makanan yang dipanggang mulai meningkat saat usianya menginjak 40. “Hampir tiap malam minggu saya makan steak. Kalau nggak gitu makan sate. Saya suka karena rasanya enak,” lanjutnya seraya tersenyum.
Menginjak menopause di usianya 48, konsumsi makanan itu tetap jalan terus. Awalnya, Jeanny tak merasakan keluhan apapun. Hingga dua tahun kemudian, di awal 2004, Jeanny merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.
“Sewaktu kencing, saya melihat flek pada pakaian dalam. Saya jelas kaget. Mengingat saya sudah menopause dan tidak mungkin haid lagi,” terang perempuan yang tampil dengan balutan blazer ungu dan kaus cokelat itu.
Takut terjadi apa-apa, perempuan asli Malang itu lantas memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan. Dari pemeriksaan USG, tidak diketahui adanya penyakit apapun.
Begitu pun hasil Pap smear-nya, sempurna. “Kata dokter, mungkin flek itu hanya gejala pramenopause saja.” Dia disarankan tidak terlalu khawatir. “Apalagi, semua pemeriksaan hasilnya baik,” ungkapnya.
Flek itu ternyata berlangsung hingga sembilan bulan.
Dalam jangka waktu itu, Jeanny tidak memeriksakan diri karena menganggap bukan masalah besar. Hingga di bulan September 2005, perempuan berambut pendek itu mengalami perdarahan hebat. “Darah yang keluar banyak sekali. Seperti menstruasi,” terangnya.
Tanpa pikir panjang, Jeanny ke dokter. Untuk mengetahui penyebabnya, dokter menyarankan biopsi. “Saya benar-benar kaget sewaktu diberitahu hasilnya.”
Betapa tidak, dari pemeriksaan diketahui Jeanny mengidap kanker rahim stadium tiga. “Tapi, saya nggak langsung percaya.
Saya sempat mencari second opinion ke dokter bedah dan dokter penyakit dalam,” katanya. Ternyata, hasilnya sama. Mereka semua tetap mengatakan, ada kanker ganas yang bercokol di rahimnya. Untuk mengenyahkan kanker itu, rahim serta serta indung telur Jeanny harus diangkat.
Operasi dilakukan di Oktober 2005. “Usai operasi saya merasa lega. Karena saya pikir saya telah bebas dari kanker.”
Sayangnya, kelegaan itu tak berlangsung lama. Awal tahun 2007, Jeanny kembali merasakan keluhan menganggu.
“Ketika bangun pagi, tubuh ini rasanya sakit semua.
Terutama bagian belakang. Saya sampai gak bisa bangun dari tempat tidur,”ceritanya. Panik, dokter pun kembali menjadi jujugannya.
Kali ini hasil diagnosis yang diterimanya tak kalah mencengangkan. Dari hasil USG diketahui ada lima benjolan berdiameter rata-rata 3 cm di bawah perutnya. Kata dokter, benjolan itu merupakan pembengkakan dari kelenjar getah bening yang merupakan manifestasi dari penyebaran kanker.
“Jalan satu-satunya, saya harus dikemo. Tapi, saya menolak,” kata perempuan 54 tahun itu. Alasannya, kemo tak memberikan kesembuhan yang pasti. Bahkan, banyak orang menjalani kemo, namun kondisinya justru semakin parah. “Saya hanya pasrah. Saya perbanyak doa dan meminta pertolongan kepada Tuhan,” tambahnya.
Lantaran tidak menjalani pengobatan apapun, kondisi Jeanny merosot cepat. Tak hanya sakit yang dirasa, kanker juga melemahkan tubuhnya. Sekadar berjalan pun rasanya dia tak kuasa. Ditengah keputusasaannya itu, seorang teman menyarankan dia berobat ke sebuah klinik di daerah Trawas.
Demi kesembuhan, Jeanny langsung setuju.
“Saya masih ingat, betapa perjalanan menuju ke Trawas serasa siksaan bagi saya. Saya nggak bisa duduk enak.
Badan terasa sakit semua, seperti orang mau melahirkan,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. “Bahkan, untuk menaiki tangga klinik saja saya harus dibopong karena tidak kuat mengangkat tubuh.”
Selama dua minggu di klinik tersebut, Jeanny menjalani terapi non-obat. Terapinya lebih ke arah perubahan makanan.
Dia diajarkan menjadi vegan. Ini merupakan salah satu jenis diet vegetarian murni tanpa konsumsi telur dan susu. Yang dimakan total sayuran. Plus mengonsumsi susu kedelai.
“Pokoknya, tiada hari tanpa sayuran. Sajiannya ya seperti makanan rumah, ada yang di tumis, dibuat sayur, atau sekadar di rebus,” paparnya. Namun yang jelas, sayur itu dimasak dengan jalan yang benar. Dikatakan demikian, meski dimasak sayur tetap terasa renyah, segar, dan tak hilang vitaminnya. “Kalau dimakan, tetap krenyus-krenyus,” katanya.
Awalnya terasa sulit melakukan diet vegan. Tubuh Jeanny lemas, kram, dan sulit buang air besar. “Kata tenaga medis di sana , hal ini wajar. Tubuh sedang menyesuaikan diri. Nanti akan normal kembali,” katanya. Benar saja, 4 hari kemudian, Jeanny merasa seperti biasa.
“Meski begitu, saya sempat ragu sama keberhasilan terapi ini. Apalagi, setelah seminggu, saya tidak merasa perubahan yang berarti,” lanjutnya.
Menginjak minggu kedua, dia mulai merasakan manfaatnya.
Tubuhnya bertambah segar. Bahkan, tenaganya kembali seperti semula. “Saya bisa naik turun tangga lagi.” Sekeluarnya dari klinik itu, ibu empat anak ini tetap menerapkan pola diet vegan. Dia tetap melakukan diet atas dasar keinginan untuk sembuh.
Enam bulan kemudian, Jeanny berinisatif memeriksakan diri kembali. Ajaibya, ketika di USG, benjolannya tersisa satu.
Melihat hal ini, dokter menyarankan untuk membuang benjolan tersebut. Tentu dengan pembedahan. Jeanny menolak.
“Hanya dengan diet vegan saja 4 benjolan hilang, berarti benjolan yang tersisa ini pun pasti akan hilang jika saya menerapkan pola yang sama,” katanya memberi alasan.
Beberapa bulan kemudian, benjolan itu hilang.
“Saya benar-benar nggak percaya begitu melihat hasil USG. Benjolan saya benar-benar hilang semua. Bahkan dokter pun sempat kagum,” kata nenek empat cucu ini. Jeanny pun bertambah yakin, bahwa makanan memang sangat menentukan kesehatan. Dan sayuran tidak hanya membuat sehat, tetapi juga bisa memperbaiki tubuh yang rusak. (*)
Tags: info-sehat